Kota Pekanbaru

Hujan Pagi Ini Ubah Rencana, Salat Id di Kantor Gubernur Riau Dialihkan ke Masjid, Jemaah Tetap Antusias!

RIAU Sabtu, 21 Maret 2026 - 15:20 WIB  |    Reporter : Maudhi NC   Redaktur : Fithriady Syam  
Hujan Pagi Ini Ubah Rencana, Salat Id di Kantor Gubernur Riau Dialihkan ke Masjid, Jemaah Tetap Antusias!

Hujan deras pada pagi Idulfitri di Pekanbaru, Sabtu (21/3/2026), memaksa pemindahan lokasi Salat Id dari halaman Kantor Gubernur Riau ke Masjid Al-Hidayah, namun ibadah tetap berlangsung khusyuk dengan dihadiri ribuan jamaah. (Dok Diskominfotik Riau)

Pekanbaru — Langit Kota Pekanbaru seolah sepakat untuk meneteskan rahmat-Nya sejak ufuk timur belum sepenuhnya merekah pada pagi nan fitri. Rintik hujan yang mengguyur bumi sedari subuh menghadirkan udara dingin yang menusuk tulang, namun sama sekali tak membekukan kehangatan iman ribuan umat Muslim di Riau.

Di tengah kepungan cuaca yang tak bersahabat, lantunan takbir terus menggema syahdu, membelah derasnya hujan dan memeluk erat halaman Kantor Gubernur Provinsi Riau, menyambut datangnya 1 Syawal 1447 Hijriah.

Sejak jarum jam menunjuk pukul 06.30 WIB, gelombang manusia telah membanjiri pusat pemerintahan tersebut. Pria, wanita, hingga anak-anak datang dengan balutan busana terbaik mereka, menenteng sajadah dengan wajah penuh binar kemenangan.

Awalnya, pelataran luas halaman Kantor Gubernur Riau disiapkan sebagai hamparan sajadah raksasa di bawah kubah langit. Namun, rintik yang semula malu-malu berubah menjadi guyuran deras yang memaksa panitia dan jemaah memutar haluan.

Kehendak alam tak bisa ditawar. Ribuan jemaah bergerak sigap mengevakuasi diri, mencari tempat bernaung dari hujan yang kian deras. Rencana ibadah di ruang terbuka pun terpaksa dibatalkan dan dialihkan ke dalam Masjid Al-Hidayah di kompleks Kantor Gubernur Riau. Suasana yang semula lapang perlahan berubah menjadi lautan manusia yang bergerak serentak, mencari saf terdepan di dalam rumah ibadah.

Di sudut lorong Gedung Kantor Gubernur yang agak temaram, Dedi, salah seorang jemaah yang tak kebagian tempat, berdiri dengan selembar sajadah terlipat di dadanya. Sorot matanya memancarkan keikhlasan, meski harus menepi dari saf utama.

“Yang penting kita sudah niat untuk salat Id, tapi Allah berkehendak lain. Tidak ada tempat lagi untuk salat di masjid, penuh sesak. Hujan lebat ini, banyak juga yang tidak salat karena tidak ada tempat, akhirnya berdiri di lorong. Ada juga yang memaksakan diri salat di lorong,” tuturnya dengan nada pasrah.

Meski diwarnai perpindahan dan keterbatasan ruang, esensi ibadah tak sedikit pun luntur. Tepat pukul 07.40 WIB, setelah eksodus jemaah dari halaman ke dalam gedung perlahan tertata, gema iqamah memecah gemuruh hujan.

Di bawah pimpinan Ustaz H. Amin Yono, al-hafiz yang bertindak sebagai imam, ribuan tubuh rukuk dan sujud dalam satu komando, menghadirkan harmoni yang menggetarkan sanubari. Hal itu membuktikan bahwa hujan hanyalah panggung, sementara ketaatan menjadi inti dari peristiwa tersebut.

Kekhusyukan ibadah berlanjut tatkala khatib yakni Kepala Kanwil Kemenag Riau, Dr. H. Muliardi, melangkah ke mimbar membawakan khotbah. Suaranya yang teduh mengalirkan pesan-pesan spiritual ke sudut-sudut masjid hingga ke lorong-lorong tempat jemaah bernaung.

Idulfitri tahun ini, tegasnya, menghadirkan pesan yang teramat kuat, bahwa kemenangan Ramadan sejati haruslah tercermin dalam keindahan akhlak, eratnya ikatan persaudaraan, dan kedewasaan jiwa dalam menyikapi segala bentuk perbedaan.

Hujan deras pagi itu tidak mencuci semangat, melainkan membersihkan ego dan menguji keikhlasan. Mereka yang bersujud di atas karpet empuk masjid, maupun mereka yang menundukkan kepala di atas lantai dingin lorong perkantoran, sama-sama merengkuh hakikat kemenangan di mata Sang Pencipta. (MNC/MCR)

Laporan : Maudhi NC
Redaktur : Fithriady Syam





Berita Lainnya