Pekanbaru
Edy Natar Dukung Pembangunan SLB, Wakafkan Tanah 1.500 Meter
Mantan Gubernur Riau Edy Natar Nasution saat bertemu aktivis disabilitas Fenty Widya terkait rencana pembangunan SLB di Pekanbaru. (Dok Ist/Cakaplah)
PEKANBARU – Harapan menghadirkan fasilitas pendidikan yang lebih layak bagi penyandang disabilitas di Kota Pekanbaru kembali mendapat dukungan. Kali ini dukungan datang dari mantan Gubernur Riau Edy Natar Nasution.
Dalam pertemuan dengan aktivis disabilitas Fenty Widya, Edy Natar menyampaikan kesediaannya untuk mewakafkan sebidang tanah seluas sekitar 1.500 meter persegi yang berada di kawasan Jalan 45, daerah industri Tenayan Raya, untuk dimanfaatkan sebagai lokasi pembangunan Sekolah Luar Biasa (SLB) bagi anak-anak penyandang disabilitas.
Fenty Widya mengatakan, kesediaan tersebut merupakan langkah yang sangat berarti karena persoalan pendidikan bagi anak penyandang disabilitas tidak hanya menyangkut keberadaan sekolah, tetapi juga ketersediaan lahan, aksesibilitas, lingkungan yang aman, serta dukungan pemerintah dan masyarakat.
“Pagi tadi saya bertemu Pak Edy Natar. Saya melihat langsung kesungguhan beliau untuk membantu anak-anak disabilitas. Beliau menyampaikan niat untuk mewakafkan tanah seluas kurang lebih 1.500 meter persegi untuk dapat dimanfaatkan sebagai lokasi Sekolah Luar Biasa. Bagi kami, ini bukan sekadar soal tanah, tetapi tentang membuka kesempatan pendidikan bagi anak-anak disabilitas,” kafa Fenty, Sabtu (19/9/2026).
Menurut Fenty, apabila niat wakaf tersebut dapat ditindaklanjuti secara baik dan sesuai ketentuan hukum, lahan tersebut berpotensi menjadi salah satu titik penting dalam pengembangan layanan pendidikan khusus di Pekanbaru.
Namun, masih terdapat persoalan akses menuju lokasi. Jalan menuju kawasan tersebut saat ini belum seluruhnya beraspal. Terdapat ruas jalan yang terputus sepanjang kurang lebih 800 meter, yang menghubungkan kawasan Rusunawa dan PLTU.
Kondisi ini menjadi perhatian karena akses jalan merupakan bagian penting dari keberlangsungan fasilitas pendidikan, terlebih apabila nantinya lokasi tersebut digunakan untuk sekolah bagi anak-anak penyandang disabilitas.
Fenty berharap persoalan akses tersebut dapat menjadi perhatian Pemerintah Kota Pekanbaru. Menurutnya, penyelesaian ruas jalan sepanjang sekitar 800 meter tersebut bukan hanya akan memberikan manfaat bagi rencana pembangunan Sekolah Luar Biasa, tetapi juga bagi mobilitas masyarakat dan aparatur pemerintah yang menggunakan jalur tersebut.
“Kami berharap bapak Walikota Pekanbaru dapat melihat persoalan ini secara menyeluruh. Ada lahan yang bersedia diwakafkan untuk kepentingan pendidikan anak-anak disabilitas, tetapi akses menuju lokasi juga perlu mendapatkan perhatian. Ruas jalan sekitar 800 meter yang belum tersambung dan belum beraspal itu perlu dicarikan solusi,” kata Fenty.
Ia menambahkan, apabila akses tersebut dapat diselesaikan, jalur yang menghubungkan Rusunawa dan PLTU juga akan menjadi lebih mudah dilalui dan dapat mempersingkat waktu tempuh, termasuk bagi pegawai Pemerintah Kota Pekanbaru yang menuju kawasan kompleks perkantoran atau kompleks walikota.
Fenty juga menjelaskan, kondisi lahan masih perlu disesuaikan dengan perkembangan rencana pelebaran jalan. Sebagian area tanah tersebut terdampak rencana pelebaran jalan oleh pihak pemerintah daerah, sehingga diperlukan koordinasi lebih lanjut agar status dan pemanfaatan lahan untuk kepentingan pendidikan dapat ditata secara jelas.
“Semua harus dibicarakan secara terbuka dan sesuai aturan. Kita tentu ingin wakaf ini benar-benar menjadi aset sosial untuk kepentingan pendidikan disabilitas. Karena itu, persoalan batas lahan, rencana pelebaran jalan, akses, dan pemanfaatannya harus diselesaikan dengan baik sejak awal,” ujarnya.
Bagi Fenty, dukungan Edy Natar menunjukkan bahwa pembangunan pendidikan inklusif dan layanan pendidikan khusus tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Masyarakat, dunia usaha, tokoh masyarakat, dan berbagai pihak juga dapat mengambil bagian dalam menghadirkan ruang pendidikan yang lebih layak bagi penyandang disabilitas.
Ia berharap niat baik tersebut dapat menjadi titik awal kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah sehingga rencana pendirian Sekolah Luar Biasa tidak berhenti pada ketersediaan lahan.
“Anak-anak disabilitas memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan. Kalau hari ini ada orang yang bersedia mewakafkan tanahnya untuk sekolah mereka, maka niat baik itu harus kita jaga dan kita perjuangkan bersama. Pemerintah tinggal hadir untuk memastikan akses, tata ruang, infrastruktur, dan aspek hukumnya dapat diselesaikan,” kata Fenty.
Menurutnya, pembangunan SLB di lokasi tersebut nantinya juga harus memperhatikan prinsip aksesibilitas sejak awal, sehingga lingkungan sekolah dapat benar-benar digunakan oleh peserta didik penyandang disabilitas secara aman dan bermartabat.
Fenty menegaskan, pembangunan fasilitas pendidikan disabilitas bukan sekadar membangun gedung sekolah. Lebih dari itu, pembangunan tersebut merupakan bagian dari upaya memastikan hak pendidikan penyandang disabilitas dapat diwujudkan dalam kehidupan nyata.
“Yang kita bangun bukan hanya gedung. Kita sedang membangun masa depan anak-anak disabilitas. Karena itu, ketika ada tanah yang diwakafkan untuk sekolah, akses jalannya juga harus dipikirkan. Jangan sampai sekolahnya ada, tetapi anak-anak dan gurunya kesulitan mencapai lokasi,” katanya.
Ia berharap Pemerintah Kota Pekanbaru dapat menindaklanjuti kondisi ruas jalan tersebut melalui koordinasi dengan pihak-pihak terkait, sehingga akses sepanjang sekitar 800 meter yang menghubungkan Rusunawa dan PLTU dapat segera mendapatkan solusi.
Bagi Fenty, wakaf tanah seluas 1.500 meter persegi tersebut merupakan sebuah peluang besar. Dengan dukungan pemerintah dalam penyelesaian akses dan aspek teknis lainnya, lahan tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi fasilitas pendidikan yang memberikan manfaat jangka panjang bagi anak-anak penyandang disabilitas di Pekanbaru.
“Semoga niat baik Pak Edy Natar menjadi amal jariyah dan benar-benar terwujud menjadi sekolah yang memberikan masa depan bagi anak-anak disabilitas. Dan kami berharap Pemerintah Kota Pekanbaru dapat hadir menyelesaikan persoalan akses jalannya. Kalau pemerintah, masyarakat, dan pihak terkait bergerak bersama, saya yakin ikhtiar ini bisa menjadi sesuatu yang nyata,” harap Fenty. (MNC/SP)



















