Pekanbaru
Unri Jadikan 10 Danau Kampus Pengendali Banjir, Gandeng Pemko Pekanbaru
Universitas Riau (Unri) bersama Pemerintah Kota Pekanbaru menyepakati sebuah terobosan ekologis dengan memanfaatkan kawasan hijau kampus sebagai "benteng" penahan air. (DOK UNRI/FS)
PEKANBARU – Sebuah inovasi baru. Kawasan Panam, khususnya di Kecamatan Binawidya, telah lama bergulat dengan masalah banjir yang kian parah akibat pesatnya alih fungsi lahan menjadi pemukiman. Menjawab persoalan menahun ini, Universitas Riau (Unri) bersama Pemerintah Kota Pekanbaru menyepakati sebuah terobosan ekologis dengan memanfaatkan kawasan hijau kampus sebagai "benteng" penahan air.
Langkah strategis ini mencuat dalam forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD Kota Pekanbaru Tahun 2027 beberapa waktu lalu. Menurut pemaparan Ketua Pusat Studi Bencana yang juga Dosen Fakultas Teknik Unri, Dr. Eng. Sigit Sutikno, M.T secara komprehensif rencana revitalisasi dan interkoneksi terhadap 10 danau yang tersebar di lingkungan kampus Unri Binawidya.
Sigit menekankan pentingnya meminimalkan pembuangan air langsung ke drainase kota yang selama ini kerap memicu banjir di daerah hilir. Sebaliknya, Unri menawarkan konsep optimalisasi lahan terbuka hijau seluas 345 hektare untuk menangkap dan menyimpan air hujan secara mandiri. "Inti dari penanganan ini adalah memaksimalkan kapasitas tampung setempat melalui interkoneksi danau-danau kita," jelasnya.
Secara teknis, proyek ini akan mengubah drastis bentang air di dalam kampus. Dari kondisi eksisting yang saat ini hanya memiliki luas 3,62 hektare dengan daya tampung 33.160 meter kubik, 10 danau tersebut akan diperluas hingga mencapai 7,52 hektare. Perluasan ini otomatis mendongkrak volume tampungan air hingga 5,8 kali lipat menjadi 191.459 meter kubik.
Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik Unri Professor Dr Ahmad Fadli, MT mengungkapkan dengan kapasitas tampung yang baru, model simulasi menunjukkan bahwa sistem interkoneksi danau ini mampu mereduksi luapan air banjir hingga di atas 90 persen. Dampak positif ini akan langsung dirasakan oleh masyarakat di enam titik rawan banjir di Panam, termasuk jalur padat Jalan HR Soebrantas, area Kampus Binawidya Unri, hingga Jalan Bangau Sakti, Jalan Balam Sakti, Jalan Kutilang Sakti, dan Jalan Merak Sakti.
Guna mewujudkan infrastruktur hijau ini, estimasi total investasi yang disiapkan mencapai Rp 180,21 miliar yang akan dikucurkan dalam empat tahapan pembangunan. Tahap pertama dengan anggaran Rp 38,51 miliar akan langsung memprioritaskan revitalisasi Danau Justisia, Danau Medika, dan jalur interkoneksinya demi menyelesaikan masalah genangan air yang kerap melumpuhkan lalu lintas di Jalan HR Soebrantas.
Menariknya, proyek hasil sinergi Unri dan Pemko Pekanbaru ini tidak hanya berfungsi sebagai pengendali banjir semata. Cetak biru proyek ini juga mengintegrasikan danau-danau tersebut sebagai kawasan konservasi sumber daya air, laboratorium riset eko-hidrologi, EkoEduPark, hingga area penyediaan air darurat bagi armada pemadam kebakaran jika sewaktu-waktu terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang selalu terjadi di kota ini. (HFS/AJ)



















