Kuansing

Pro dan Kontra Ritual Mambasuah Nagori, MUI Kuansing Sebut Bertentangan dengan Akidah

RAGAM Selasa, 17 Februari 2026 - 10:01 WIB  |    Reporter : Hafith   Redaktur : Fithriady Syam  
Pro dan Kontra Ritual Mambasuah Nagori, MUI Kuansing Sebut Bertentangan dengan Akidah

Diawali dengan menyembelih seekor Kerbau. Dilanjutkan dengan acara mendoa dan makan bersama. Lalu, dilanjutkan prosesi menabur bagian kepala dari Kerbau tersebut, yang dilakukan para Ninik Mamak Kenegerian IV Koto Lubuk Ambacang, Hulu Kuantan, Ahad (15/2/2026) lalu. (Dok Ripos/int)

KUANSING - Ritual adat prosesi 'mambasuah nagori' (membasuh negeri) dengan cara menabur kepala kerbau usai disembelih ke Sungai Kuantan di salah satu kecamatan di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, viral. Kini acara tersebut menjadi pro dan kontra di masyarakat.

Diawali dengan menyembelih seekor Kerbau. Dilanjutkan dengan acara mendoa dan makan bersama. Lalu, dilanjutkan prosesi menabur bagian kepala dari Kerbau tersebut, yang dilakukan para Ninik Mamak Kenegerian IV Koto Lubuk Ambacang, Hulu Kuantan, Ahad (15/2/2026) lalu.

Sudah hampir 20 tahun, ritual "Mambasuah Nagori" ini tidak dilaksanakan secara besar-besaran. Diketahui, ritual ini adalah benteng spiritual masyarakat negeri saat dilanda musibah atau wabah penyakit.

Seperti dilansir cakaplah.com, Ritual yang ditampilkan ke khalayak ini mendapat tanggapan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kuansing.

Menurut Wakil Ketua Umum MUI Kuansing, Mulkan M Sarin, ritual ini jelas bertentangan dengan ajaran Islam, hukumnya kufur dan syirik (membatalkan Syahadatain).

Dan ritual ini, katanya, tergolong kepada syirik besar. Dan semua yang mengikuti prosesi ini harus bertobat.

"Jangan main-main. Ini soal akidah kita," ujar Mulkan, menanggapi ritual tersebut.

Ditambah lagi, ada unsur kemubaziran yang jelas dilarang keras oleh Allah Ta'ala. Menurut Mulkan, tradisi ini menjadikan manusia tidak bersyukur atas nikmat yang sudah diberikan, karena nikmat itu datangnya dari Allah.

"Ini kan membuktikan tidak ada rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat yang diberikan dan ritual ini tergolong mengabaikan peran Allah SWT terhadap nikmat hidup ini," katanya.

Atas kejadian ini, Mulkan berharap, semua yang terlibat dalam ritual ini agar bertobat dan mensyukuri nikmat yang diberikan Sang Khalik kepada makhluk-Nya.

"Kita menyerukan kepada semua pihak yang terlibat dalam acara ritual mambasuah nagori untuk bertobat. Apalagi kita akan memasuki bulan Ramadan," ajak Wakil Ketua Umum MUI Kuansing itu.

Sebagaimana diberitakan, Ketua Limbago Adat Nagori (LAN) Hulu Kuantan, Datuak Sirajo Taslim Idris menegaskan, penyembelihan Kerbau dan makan bersama adalah bagian dari adat yang sejalan dengan agama.

"Adat bersendi syarak. Syarak bersendikan kitabullah," ujarnya.

Turut hadir dalam ritual itu Ketua DPRD Kuansing Juprizal bersama Bupati Kuansing yang diwakili Kepala Bapenda Kuansing Masrul Hakim. Mereka sepakat bahwa adat adalah warisan yang harus dipahami oleh generasi muda agar hidup mereka terarah. (HFS/CKP)

Laporan : Hafith
Redaktur : Fithriady Syam





Berita Lainnya