Pekanbaru

Prof. Elfizar Tawarkan Konsep Kampus Masa Depan: Aman, Hijau, Inklusif, dan Berdaya Saing Global

SEPUTAR KAMPUS Senin, 08 Juni 2026 - 08:09 WIB  |    Reporter : Maudhi NC   Redaktur : Fithriady Syam  
Prof. Elfizar Tawarkan Konsep Kampus Masa Depan: Aman, Hijau, Inklusif, dan Berdaya Saing Global

Prof. Elfizar mengemukakan konsep "Kampus Idaman dan Kampus Masa Depan" yang menekankan lingkungan akademik yang aman, nyaman, hijau, inklusif, dan berkelanjutan. (Foto Istimewa)

PEKANBARU – Prof. Dr. Elfizar, S.Si., M.Kom., menggagas konsep "Kampus Idaman dan Kampus Masa Depan" sebagai arah pembangunan perguruan tinggi modern. Menurutnya, pembangunan institusi modern tidak boleh hanya berorientasi pada fisik, tetapi juga harus menghadirkan lingkungan akademik yang manusiawi, aman, nyaman, hijau, dan inklusif.

Wakil Dekan II Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Riau ini menilai, perguruan tinggi pada hakikatnya bukan sekadar kumpulan gedung kuliah, laboratorium, perpustakaan, maupun kantor administrasi. Kampus merupakan ruang hidup yang mempertemukan beragam manusia dengan gagasan, cita-cita, serta harapan masa depan.

"Kampus adalah tempat ilmu diproduksi, karakter dibentuk, kepemimpinan ditempa, dan masa depan peradaban dirancang," ujar Prof. Elfizar, Sabtu (6/6/2026).

Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa pembangunan kampus tidak cukup hanya diukur dari besarnya bangunan atau anggaran. Tolok ukur utamanya adalah sejauh mana kampus mampu menghadirkan rasa nyaman dan memiliki (sense of belonging) bagi seluruh sivitas akademika.

Respons Terhadap Era Digital dan AI

Prof. Elfizar melihat perubahan dunia pendidikan tinggi dalam satu dekade terakhir berlangsung sangat cepat, terutama dipicu oleh perkembangan teknologi digital, pembelajaran daring, hingga kecerdasan buatan (artificial intelligence). Kondisi tersebut membuat mahasiswa tidak lagi sepenuhnya bergantung pada ruang kelas konvensional. Kampus pun dituntut mampu menawarkan nilai tambah berupa pengalaman akademik dan sosial yang berkualitas.

"Kampus harus menjadi tempat yang membuat mahasiswa ingin datang, berdiskusi, berinteraksi, berkarya, dan tumbuh bersama," katanya.

Fondasi Kenyamanan dan Keamanan

Lebih lanjut, Prof. Elfizar menjelaskan bahwa kenyamanan menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan akademik yang sehat. Lingkungan yang bersih, tertata, teduh, bebas sampah, serta memiliki fasilitas publik yang berfungsi baik diyakini dapat meningkatkan motivasi belajar.

Selain nyaman, aspek keamanan juga menjadi syarat utama kampus modern. Menurutnya, tidak ada kampus yang dapat disebut maju apabila masih terdapat praktik kekerasan, perundungan, pelecehan seksual, diskriminasi, maupun intimidasi.

"Mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan harus merasa aman secara fisik maupun psikologis. Keamanan kampus bukan hanya tanggung jawab satpam, tetapi budaya bersama yang dibangun melalui penghormatan terhadap sesama dan penegakan aturan yang adil," tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya penerapan kebijakan pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan perguruan tinggi secara serius dan konsisten. Komitmen pimpinan kampus, perlindungan terhadap pelapor, serta ketegasan penegakan aturan menjadi indikator penting dalam membangun kampus bermartabat.

Ruang Interaksi dan Estetika Kampus Hijau

Dalam gagasannya, Prof Elfizar turut menyoroti pentingnya ruang interaksi yang hidup. Mahasiswa tidak hanya belajar dari dosen di ruang kelas, tetapi juga melalui organisasi, komunitas, diskusi, dan aktivitas kemahasiswaan lainnya.

"Kampus ideal harus menyediakan ruang terbuka yang memungkinkan lahirnya percakapan intelektual dan kolaborasi lintas disiplin. Sudut-sudut kampus harus menjadi ruang bertemunya ide," ujarnya.

Tidak hanya itu, estetika lingkungan kampus juga dianggap memiliki peran strategis dalam membangun atmosfer akademik. Pohon-pohon rindang, taman hijau, jalur pejalan kaki yang nyaman, hingga ruang publik artistik dinilai mampu meningkatkan keterikatan emosional warga kampus terhadap almamaternya.

Bagi wilayah tropis seperti Riau, konsep kampus hijau disebut sangat relevan. Penataan lanskap melalui ruang terbuka hijau, pohon peneduh, dan sistem drainase yang baik akan menciptakan suasana belajar yang lebih sejuk sekaligus mendukung agenda keberlanjutan lingkungan.

Keberpihakan pada Kelompok Disabilitas

Prof. Elfizar juga menekankan pentingnya prinsip inklusivitas dalam tata kelola perguruan tinggi. Menurutnya, setiap individu harus memiliki kesempatan yang sama dalam mengakses layanan pendidikan tanpa diskriminasi.

"Gedung ramah disabilitas, jalur kursi roda, lift memadai, toilet khusus, hingga sistem pelayanan yang tidak diskriminatif merupakan bentuk nyata komitmen kampus inklusif," jelasnya.

Ia menyebut perhatian terhadap kelompok disabilitas menjadi salah satu indikator penting kualitas tata kelola universitas modern. Kampus yang menghargai keberagaman dinilai akan melahirkan kreativitas dan memperkuat kohesi sosial.

Lebih jauh, Prof. Elfizar berpandangan tantangan terbesar perguruan tinggi negeri di Indonesia bukan semata keterbatasan anggaran, melainkan bagaimana menghadirkan kepemimpinan visioner dan tata kelola yang konsisten.

"Kampus yang bersih, aman, tertata, dan ramah sering lahir dari perhatian terhadap hal-hal sederhana yang dilakukan secara berkelanjutan," katanya.

Ia menegaskan, kampus berstandar global bukan hanya soal gedung megah dan fasilitas canggih, melainkan kemampuan menghadirkan lingkungan akademik yang aman, nyaman, indah, setara, dan berkelanjutan bagi seluruh komunitasnya.

"Dari lingkungan kampus yang manusiawi, estetis, inklusif, dan berkelanjutan itulah langkah menuju universitas berdaya saing global sesungguhnya dimulai," ungkap Prof. Elfizar. (MNC/SP)

Laporan : Maudhi NC
Redaktur : Fithriady Syam





Berita Lainnya