Antara Puasa dan Konsumtivisme

Oleh Helfizon Assyafei
Mengapa dibulan Ramadhan tingkat konsumsi bukannya makin berkurang tetapi malah bertambah? Harusnya kan berkurang. Siang tidak makan dan minum. Hanya malam saja. Itupun jelang fajar. Berapa benarlah volume makanan yang bisa kita makan. Artinya banyak yang tidak termakan atau makanan yang jadi sisa. Ini mubazir.
Data statistic menunjukkan peningkatan pengeluaran rumah tangga sebesar 10-20% hingga 30% dibanding bulan biasa. Konsumsi makanan/minuman tinggi kalori, takjil, dan makanan siap saji meningkat. Belanja online juga melonjak, terutama di jam-jam tertentu seperti sahur dan menjelang buka puasa.
“Kita hanya menggeser jam makan tanpa mengurangi volumenya,” ujar seorang cendikiawan muslim. Makan kita sama dengan sebelum puasa dan bahkan secara kuantitas meningkat dibulan puasa karena tradisi ‘lapar mata’ (semua kuliner dibeli) jelang berbuka dan perilaku konsumtif.
Tujuan puasa sebenarnya mendidik nafsu kita agar mengerem kebiasaan konsumtif dan ikut merasakan laparnya kaum tak punya. Dengan pola yang tetap konsumtif itu maka tujuan tadi tak tercapai. Sebab setelah lapar kita bisa ‘balas dendam’ makan apa saja yang kita mau. Puasa hanya jadi pesta makan yang ditunda.
Beda dengan si miskin. Lapar ya benar-benar lapar tanpa tahu nanti bisa makan apa. Kata tuan guru berpuasa itu artinya melatih diri menahan nafsu bahkan kalaupun kita mampu untuk memenuhinya.
Tujuannya agar kelak ketika kita dalam suatu keadaan yang benar-benar tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok (entah karena jatuh miskin) kita tidak takut. Dengan puasa kita mestinya telah belajar sederhana dan tidak takut bila mengalami kekurangan ekonomi.
Dulu ketika Nabi bertanya pada istrinya apakah ada yang dimasak hari itu dan istrinya menjawab tidak ada, Nabi tidak marah. Nabi memilih puasa.
Ketika kita mengalami situasi serupa dan bisa merespon dengan cara yang sama, itulah hasil didikan puasa yang sebenarnya. Menjadi insan yang tetap punya kesabaran dan akhlak yang baik meski ditengah kekurangan ekonomi yang dialaminya.
Penulis, Pemred Alumniriau.com























