Jakarta
El Nino Diprediksi Memuncak Agustus, Kementan Minta Pemda Perkuat Mitigasi Kekeringan
Kementerian Pertanian RI memaparkan sejumlah perkembangan program prioritas nasional dalam konferensi pers di Aula Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta, Rabu (17/6/2026). (Dok Kementan RI)
JAKARTA – Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan) RI, Suwandi, mengingatkan seluruh pemerintah daerah (Pemda) di Indonesia untuk tetap waspada terhadap ancaman kekeringan yang masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah.
Suwandi menerangkan, puncak fenomena El Nino diprediksi terjadi pada Agustus mendatang. Karena itu, ia berharap pemerintah daerah dapat memahami kondisi tersebut dengan baik agar ancaman kekeringan dapat diantisipasi sejak dini.
"Menteri Pertanian telah menyurati seluruh gubernur dan bupati. Daerah juga tentunya berkoordinasi dengan Mendagri untuk menggerakkan langkah-langkah antisipasi," kata Suwandi, dikutip dari kanal YouTube Badan Komunikasi Pemerintah RI, Kamis (18/6/2026).
Sekjen Kementan melanjutkan, ada beberapa poin dalam surat yang dikirim Kementan ke daerah dalam rangka antisipasi dampak kemarau tersebut.
Diantaranya, setiap daerah diminta melakukan pemetaan wilayah yang selama ini menjadi langganan kekeringan. Selain itu, daerah juga didorong menerapkan sistem peringatan dini (Early Warning System/EWS) sebagai langkah antisipasi, adaptasi, dan mitigasi kekeringan.
Pemerintah daerah juga diminta mengoptimalkan pengelolaan air irigasi melalui rehabilitasi jaringan irigasi, embung, sumur air dangkal, serta sumber air lainnya.
"Serta memanfaatkan pompanisasi, perpipaan, dan irigasi perpompaan," lanjutnya.
Suwandi mengungkapkan, langkah strategis lainnya dalam mengantisipasi dampak musim kemarau adalah mempercepat gerakan tanam di wilayah potensial dengan menggunakan varietas genjah dan tahan kekeringan, seperti Inpago 4–13, Inpari 38–46, Situbagendit, Situpatenggang, Pajajaran, Cakrabuana, dan varietas lainnya.
Selain itu, pemerintah daerah juga dapat mengatur pola tanam sesuai dengan kondisi iklim dan ketersediaan air di masing-masing wilayah.
"Tingkatkan koordinasi dan sinergi antara Pemda dan seluruh pemangku kepentingan dalam pemantauan kondisi lahan pertanian," ujarnya.
Suwandi berharap strategi antisipasi dampak musim kemarau yang selalu disampaikan Kementan mulai dari antisipasi sebelum kemarau terjadi, adaptasi saat musim kemarau, dan mitigasi mengurangi dampak kekeringan dapat dilakukan dengan baik oleh Pemda.
Dengan demikian, apabila puncak musim kemarau benar-benar terjadi, dampaknya dapat diminimalkan dan ditangani sebaik mungkin.
"Semua disiapkan dengak baik, mulai dari air, benih, dan lain sebagainya, serta selalu pantau perkiraan cuaca di daerah masing-masing," tutupnya. (MNC/MCR)


















