Bengkalis
Jejak Pemulihan Gambut Tanjung Leban: Dari Lahan Terbakar Jadi ’Living Lab’ Unri
Kegiatan Excursion ELS Rumah Runding Restorasi dan Pengabdian Masyarakat Internasional dengan tema “Jelajah Belajar di The Living Lab Restorasi Gambut”, Minggu (1/11/2026). (Dok Unri)
BENGKALIS – Universitas Riau (Unri) terus mendorong upaya pemulihan ekosistem gambut melalui kolaborasi penelitian dan pemberdayaan masyarakat. Salah satu wujudnya terlihat di Desa Tanjung Leban, Kabupaten Bengkalis, kawasan yang pernah mengalami kebakaran gambut sekitar 15 tahun lalu dan kini menjadi lokasi pembelajaran restorasi lingkungan.
Komitmen tersebut diperlihatkan melalui kegiatan Excursion ELS Rumah Runding Restorasi dan Pengabdian Masyarakat Internasional bertema “Jelajah Belajar di The Living Lab Restorasi Gambut”, Minggu (1/11/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian International Conference on Peatland Restoration and Innovation (ICOPRI) 2026.
Melalui kunjungan lapangan tersebut, peserta diajak melihat secara langsung proses pemulihan ekosistem gambut sekaligus mempelajari peran penelitian, kolaborasi lintas institusi, dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
Ketua Center for Peatland and Disaster Studies (CPDS) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unri, Dr. Sigit Sutikno, S.T., M.T. mengatakan, keberadaan Rumah Runding merupakan hasil perjalanan panjang dan kerja bersama berbagai pihak dalam memulihkan kawasan gambut yang pernah mengalami kebakaran.
Menurutnya, perubahan kondisi kawasan tersebut tidak terjadi secara instan, melainkan melalui berbagai upaya pemulihan, penelitian, dan pendampingan masyarakat. Rumah Runding kini menjadi ruang untuk berbagi pengetahuan sekaligus memperkuat pemahaman mengenai restorasi gambut.
Peneliti gambut Unri, Dr. Harris Gunawan, M.Sc., menjelaskan bahwa kawasan yang kini menjadi lokasi pembelajaran dulunya merupakan wilayah terdampak kebakaran gambut. Melalui riset para peneliti Unri dan dukungan berbagai institusi, kawasan tersebut perlahan mengalami perubahan.
“Lahan yang sekarang kita injak ini menyimpan sejarah kelam kebakaran gambut. Akan tetapi, melalui berbagai upaya yang dilakukan bersama, termasuk riset para peneliti Universitas Riau dan kolaborasi dengan institusi lainnya, kita sekarang dapat melihat lanskap yang berbeda,” ungkap Harris.
Ia menilai, pengalaman di Tanjung Leban menunjukkan bahwa pemulihan ekosistem gambut dapat dilakukan apabila didukung komitmen jangka panjang dan keterlibatan berbagai pihak.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Desa Tanjung Leban, Said Ahmad Faisal, menyampaikan apresiasi atas perhatian dan kontribusi berbagai pihak terhadap masyarakat desa. Ia berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai upaya merestorasi lahan gambut yang pernah terbakar.
Menurutnya, pemahaman mengenai restorasi sangat penting agar masyarakat dapat ikut menjaga kawasan gambut dan memanfaatkannya secara berkelanjutan.
Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana mempertemukan pengetahuan akademis dengan pengalaman masyarakat melalui pendekatan living lab. Perguruan tinggi, pemerintah, lembaga mitra, dan masyarakat memiliki peran penting dalam membangun kolaborasi untuk menghadapi tantangan pemulihan lingkungan.
Melalui kegiatan tersebut, Unri menegaskan pentingnya sinergi penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dalam mendukung restorasi gambut. Keberhasilan pemulihan tidak hanya ditandai perubahan kondisi lahan, tetapi juga tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk menjaga ekosistem agar tidak kembali rusak. (MNC/SP)



















