Pekanbaru
FISIP Unri Modernisasi Pengabdian Masyarakat Melalui Living Laboratory
FISIP Unri memperkuat kemitraan masyarakat melalui lokakarya pengembangan program Living Laboratory yang digelar pada Jumat (30/10/2026). (Dok FISIP Unri)
PEKANBARU – Perguruan tinggi dituntut menghadirkan kontribusi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Karena itu, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Riau (Unri) mulai memperkuat pola kemitraan melalui pengembangan program Living Laboratory.
Melalui konsep ini, masyarakat tidak lagi hanya menjadi sasaran kegiatan akademik, tetapi turut dilibatkan dalam menentukan kebutuhan, merancang program, hingga mengembangkan solusi atas persoalan yang dihadapi.
Komitmen tersebut dibahas dalam Lokakarya Implementasi Kemitraan dalam Pengembangan Living Laboratory yang digelar Laboratorium Riset dan Pengabdian Komunikasi FISIP Unri di Ruang Studio Pascasarjana FISIP Unri, Jumat (30/10/2026).
Dalam pengembangannya, FISIP Unri menggandeng tiga mitra, yakni SMAN 16 Pekanbaru, Yayasan Panti Asuhan Al-Akbar Pekanbaru, serta Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Negeri Enam Tanjung, Kabupaten Kampar.
Penanggung Jawab Laboratorium Riset dan Pengabdian Komunikasi, Dr. Nova Yohana, M.I.Kom., mengatakan keterlibatan mitra sejak tahap perencanaan menjadi hal penting agar program yang dijalankan tidak sekadar memenuhi kebutuhan akademik.
Menurutnya, setiap mitra memiliki karakteristik dan persoalan berbeda. Karena itu, pendekatan kerja sama harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing lembaga.
"Melalui Living Laboratory, kami ingin membangun kemitraan akademik yang tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan pendidikan, penelitian, dan pengabdian, tetapi juga menghadirkan kolaborasi yang nyata. Karena itu, mitra bukan sekadar tempat mahasiswa melaksanakan kegiatan. Mereka harus menjadi bagian dari proses perencanaan agar program yang disusun benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan," jelas Nova.
Ia berharap, melalui kemitraan tersebut dapat lahir berbagai kegiatan yang memberikan manfaat langsung, sekaligus memperkuat hubungan antara kampus dan masyarakat.
Dekan FISIP Unri, Dr. Meyzi Heriyanto, M.Si., mengatakan pengembangan Living Laboratory menjadi salah satu upaya memperluas kontribusi perguruan tinggi di luar lingkungan kampus.
Menurutnya, laboratorium tidak harus selalu dimaknai sebagai ruang konvensional. Melalui konsep Living Laboratory, proses pendidikan dan pengabdian dapat dikembangkan melalui interaksi, kreativitas, serta inovasi bersama mitra.
"Living Laboratory ini bukan laboratorium konvensional. Kita ingin mengintegrasikan pendidikan dan pengabdian dengan menghadirkan berbagai kreasi bersama mitra. Harapannya, kolaborasi tersebut mampu melahirkan gagasan dan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara," ungkap Meyzi.
Ia menegaskan, kualitas pendidikan tinggi tidak hanya diukur dari proses pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga dari kemampuan menghasilkan penelitian, inovasi, dan pengabdian yang berdampak nyata.
Untuk itu, sinergi antara program studi, laboratorium, dosen, mahasiswa, dan mitra perlu terus diperkuat agar program yang dikembangkan dapat berjalan secara terarah dan berkelanjutan.
Sementara itu, Koordinator Program Magister Ilmu Komunikasi Unri, Dr. Welly Wirman, S.IP, M.Si., menjelaskan lokakarya tersebut menjadi tahap awal untuk menyusun bentuk kerja sama konkret dengan masing-masing mitra.
Dalam kegiatan itu, peserta dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan lembaga mitra. Pembagian tersebut berkaitan dengan pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang menjadi bagian dari mata kuliah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi.
Melalui diskusi kelompok, mahasiswa bersama perwakilan mitra mengidentifikasi persoalan, menggali potensi, serta membahas bentuk kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
"Kami membagi peserta menjadi tiga kelompok sesuai dengan mitra yang terlibat. Melalui diskusi ini, kita ingin mengetahui bentuk kerja sama apa yang paling memungkinkan untuk dikembangkan. Jadi, mahasiswa tidak datang dengan program yang ditentukan sendiri, tetapi terlebih dahulu mendengarkan kebutuhan mitra agar kegiatan pengabdian yang dilakukan lebih tepat sasaran," kata Welly.
Ia berharap, hasil lokakarya tersebut dapat menjadi dasar pelaksanaan program pengabdian yang lebih terarah dan memberikan manfaat bagi seluruh pihak yang terlibat.
Kegiatan ini turut dihadiri Wakil Dekan II FISIP Unri Dr. Mayarni, M.Si., Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi Dr. Rumyeni, M.Sc., Kepala Laboratorium Komunikasi dan Multimedia Dr. Chelsy Yesicha, M.I.Kom., Kepala UPA Layanan Uji Kompetensi (LUK) Unri Dr. Nita Rimayanti, M.Comm, para dosen, serta tamu undangan lainnya.
Melalui Living Laboratory, FISIP Unri berharap kemitraan dengan masyarakat tidak berhenti pada kerja sama formal. Lebih dari itu, kolaborasi diharapkan mampu menghasilkan program berkelanjutan yang berangkat dari kebutuhan nyata dan memberikan dampak bagi masyarakat. (MNC/SP)



















