Pekanbaru
Universitas Islam Chadijah Ali Riau, Wujud Baru IAI Diniyyah Pekanbaru
Perubahan status IAI Diniyyah Pekanbaru menjadi Universitas Islam Chadijah Ali Riau resmi diluncurkan pada Jumat (30/10/2026). (dok ist/riau24)
PEKANBARU – Institut Agama Islam (IAI) Diniyyah Pekanbaru resmi bertransformasi menjadi Universitas Islam Chadijah Ali Riau.
Momentum bersejarah ini diperingati melalui acara Tasyakuran dan Grand Launching Universitas Islam Chadijah Ali Riau yang berlangsung pada Jumat (30/10/2026), di Pekanbaru.
Kegiatan yang dimulai pukul 08.30 WIB hingga sekitar pukul 11.00 WIB tersebut berlangsung khidmat dan dihadiri sejumlah tokoh penting, mulai dari unsur pemerintah, tokoh pendidikan, pimpinan perguruan tinggi, pimpinan yayasan, akademisi, hingga sivitas akademika.
Acara diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara Syamsul Rizal, dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur'an, doa, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Yayasan Diniyyah, serta persembahan tari. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua Umum Yayasan Diniyyah Pekanbaru, Dr. Hj. Hasnati, M.H.
Dalam sambutannya, Hasnati menyampaikan bahwa perubahan status menjadi universitas merupakan hasil dari perjalanan panjang, perjuangan, dan kesinambungan kepemimpinan dalam mengembangkan pendidikan Islam di Pekanbaru.
Ia memaparkan perjalanan kelembagaan IAI Diniyyah Pekanbaru yang bermula pada 28 Maret 2002, hingga melalui berbagai tahapan pengembangan program studi dan jenjang pendidikan. Pada 21 Desember 2022, melalui Keputusan Menteri Agama Nomor 1497 Tahun 2022, STAI Diniyyah resmi beralih bentuk menjadi Institut Agama Islam Diniyyah Pekanbaru.
Babak baru kembali tercatat pada 27 Juli 2026. Berdasarkan Keputusan Menteri Agama Nomor 975 Tahun 2026, IAI Diniyyah Pekanbaru resmi beralih bentuk menjadi Universitas Islam Chadijah Ali Riau.
"Pencapaian tersebut bukan hasil kerja satu periode kepemimpinan semata, melainkan buah dari kontribusi para pendiri, pimpinan terdahulu, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, serta seluruh pihak yang telah mengambil bagian dalam perjalanan institusi," ujar Hasnati.
Menurutnya, perubahan status menjadi universitas juga membawa tanggung jawab yang lebih besar untuk menghadirkan pendidikan tinggi berkualitas, memperkuat budaya akademik, serta melahirkan generasi yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan kokoh dalam nilai-nilai keislaman.
Salah satu bagian penting dalam kegiatan tersebut adalah sambutan Bupati Siak, Dr. Afni Zulkifli, S.A.P., M.Si. Dalam penyampaiannya, Afni mengangkat sosok Hj. Chadijah Ali sebagai tokoh dan pahlawan pendidikan di Provinsi Riau yang sangat inspiratif.
Afni menilai pemikiran dan perjuangan Chadijah Ali telah melampaui zamannya. Ketika isu kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan menjadi pembicaraan luas pada masa sekarang, Chadijah Ali telah lebih dahulu menunjukkan bahwa perempuan memiliki kapasitas dan kesempatan yang sama untuk berperan dalam pendidikan, organisasi, serta pembangunan masyarakat.
Perjuangan tersebut menjadi bukti bahwa pemberdayaan perempuan melalui pendidikan bukanlah gagasan baru bagi Riau. Jauh sebelum isu tersebut menjadi perhatian luas, Chadijah Ali telah mengambil langkah nyata dengan membangun lembaga pendidikan dan membuka ruang bagi perempuan untuk memperoleh pendidikan serta berkontribusi di tengah masyarakat.
Nilai historis sosok Chadijah Ali juga dibahas secara mendalam dalam orasi yang disampaikan oleh Prof. Dr. Wilaela, M.Ag., dengan tema “Chadijah Ali, Pahlawan Pendidikan Riau”.
Dalam orasinya, Wilaela menggambarkan Chadijah Ali sebagai salah satu tokoh perempuan luar biasa yang memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan pendidikan, sosial, dan kelembagaan Islam di Provinsi Riau.
Kiprah Chadijah Ali tidak hanya terbatas pada pendirian Yayasan Diniyyah Pekanbaru. Perjuangannya juga menjangkau berbagai organisasi dan lembaga strategis, termasuk Yayasan Kesatuan Wanita Islam (YKWI), Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) yang menjadi bagian penting dalam sejarah berdirinya Universitas Islam Riau, serta Yayasan Rumah Sakit Islam (YARSI) Riau yang mengembangkan Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Pekanbaru.
Wilaela juga menyoroti keterlibatan Chadijah Ali dalam perjuangan pendidikan sejak awal 1950-an. Salah satunya melalui pendirian Sekolah Rakyat Islam bersama H. Baharuddin Yusuf pada 1950, yang kemudian menjadi bagian dari perkembangan Lembaga Pendidikan Islam dan YLPI Riau.
Tidak hanya bergerak dalam dunia pendidikan, Chadijah Ali juga aktif dalam organisasi dan kehidupan sosial kemasyarakatan. Dalam orasi tersebut, Wilaela turut menggambarkan luasnya jejaring pergaulan Chadijah Ali dengan sejumlah tokoh besar pada masanya, termasuk Mohammad Natsir dan Buya Hamka.
Rangkaian kontribusi tersebut memperlihatkan bahwa Chadijah Ali merupakan sosok perempuan yang memiliki visi luas dan pengaruh lintas bidang. Dedikasinya telah memberikan fondasi penting bagi perkembangan pendidikan, pemberdayaan perempuan, dan pelayanan umat di Riau.
Pemberian nama Universitas Islam Chadijah Ali Riau menjadi bentuk penghormatan sekaligus upaya melestarikan warisan perjuangan tokoh perempuan yang telah memberikan kontribusi besar bagi dunia pendidikan di Riau.
Nama tersebut diharapkan tidak hanya menjadi identitas institusi, tetapi juga menjadi pengingat bagi generasi penerus mengenai nilai perjuangan, keberanian berpikir, pengabdian, dan kepedulian terhadap pendidikan.
Puncak kegiatan Tasyakuran dan Grand Launching ditandai dengan pemutaran video filosofi logo universitas, dilanjutkan prosesi peresmian dan peluncuran logo Universitas Islam Chadijah Ali Riau. Acara kemudian ditutup dengan pembacaan shalawat badar dan foto bersama para tamu undangan.
Transformasi IAI Diniyyah menjadi Universitas Islam Chadijah Ali Riau diharapkan menjadi langkah strategis dalam memperluas kontribusi institusi terhadap perkembangan pendidikan tinggi di Provinsi Riau.
Sebagaimana disampaikan Ketua Umum Yayasan Diniyyah Pekanbaru, universitas ini diharapkan tumbuh menjadi perguruan tinggi yang unggul dalam ilmu pengetahuan, kuat dalam nilai-nilai keislaman, luhur dalam akhlak, serta mampu melahirkan generasi yang berilmu, beriman, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Perubahan status ini bukan sekadar pencapaian administratif atau pergantian nama kelembagaan. Lebih dari itu, momentum ini menjadi kelanjutan perjuangan panjang para pendahulu sekaligus awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk menghadirkan pendidikan tinggi yang berkualitas dan berdaya saing.
Dengan membawa nama Chadijah Ali, Universitas Islam Chadijah Ali Riau diharapkan dapat meneruskan semangat perjuangan pendidikan, memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan Riau, serta mengambil peran lebih luas dalam pembangunan pendidikan Indonesia. (MNC/SP)



















