Kota Pekanbaru
Dari Pasar ke Platform Digital, Strategi Pedagang Sukaramai Trade Center Hadapi Perubahan Tren Belanja
Pedagang pakaian di Sukaramai Trade Centre Pekanbaru melayani pembeli di tengah persaingan dengan tren belanja online, Jalan Jenderal Sudirman, Kota Pekanbaru, Sabtu (4/4/2026). (Dok Diskominfotik Riau)
PEKANBARU – Transformasi digital dan pergeseran pola konsumsi masyarakat dari belanja konvensional ke digital telah memunculkan tantangan signifikan bagi kelangsungan usaha pedagang pakaian di pasar tradisional. Para pedagang busana konvensional (pasar tradisional) saat ini menghadapi tantangan yang berat akibat pergeseran perilaku konsumen ke belanja daring (online).
Pedagang di Sukaramai Trade Centre, Kota Pekanbaru, menghadapi tantangan serius yang kerap berdampak pada penurunan omzet secara drastis, bahkan mengancam kelangsungan usaha mereka. Untuk menyiasati kondisi tersebut, berbagai strategi dilakukan, mulai dari melakukan pembaruan usaha, mengikuti tren model terbaru, hingga meningkatkan kualitas pelayanan kepada pembeli.
Tidak hanya itu, para pedagang juga memanfaatkan modal sosial yang mereka miliki, seperti membangun kepercayaan, menjaga norma sosial, serta memperluas jaringan usaha.
Di tengah persaingan yang semakin ketat, pedagang konvensional pun dituntut untuk beradaptasi dengan mengadopsi model hybrid, yaitu mengombinasikan penjualan melalui toko fisik dan platform online.
Selain itu, mereka juga berupaya memberikan pelayanan yang ramah guna menciptakan pengalaman belanja yang menyenangkan, sekaligus mempertahankan kepercayaan pelanggan, khususnya dari kalangan lokal.
Di tengah maraknya penjualan online, para pedagang pakaian di Sukaramai Trade Center, Pekanbaru, tetap optimis menjalankan usahanya.
Murningsih, salah satu pedagang yang sudah lebih dari 10 tahun berjualan di pasar tersebut, mengatakan bahwa penjualan pakaian di pasar tradisional masih cukup stabil.
Ia menyampaikan, dalam sehari ia dapat menjual pakaian senilai Rp750 rupiah dengan keuntungan bersih sekitar Rp500 ribu. Meskipun penjualan online lebih banyak diminati oleh masyarakat, ia yakin dapat terus mempertahankan para pelanggan dan meningkatkan penjualannya di pasar tradisional dengan pelayanan yang terbaik.
“Alhamdulillah penjualan kami masih normal seperti biasa, sehari saya bisa menjual baju senilai Rp750 ribu dengan Rp500 ribu. Terlebih pada saat lebaran kemarin, Alhamdulillah-nya untung yang didapat jauh dari modal yang saya keluarkan, bisa dua hingga tiga kali lipat dari biasanya,” ungkap Murningsih yang kerap di panggil Bu Mur, pada Sabtu (4/4/2026).
Baginya, untuk beradaptasi dengan pergeseran perilaku konsumen ke belanja daring tidaklah begitu sulit. Sebagai penjual pakaian dan pedagang, ia merasa bahwa beradaptasi ditengah tantangan persaingan digital perlu dilakukan agar tidak ketinggalan zaman. Sebab, jika siap berubah, maka siapa pun bisa bangkit dan bersaing.
“Ya tentunya kita perlu beradaptasi, jika dulu kita berjualan hanya face to face atau tawar menawar secara langsung ya bagi saya dengan adanya platform digital ini tentu lebih memudahkan kita untuk menjangkau pasar lebih luas lagi,” terangnya.
“Selain itu, untuk penjualan online melalui platfrom digital seperti Shopee, Tiktok juga sudah saya lakukan. Jadi, saya rasa dengan penjualan online dan offline ya tentunya bisa meraup keuntungan lebih banyak lagi,” tambah Bu Mur.
Langkah adaptasi dari belanja konvensional ke digital ini bisa dimanfaatkan lewat live streaming melalui platform digital yang dianggap penting, karena pasar tradisional memiliki keunggulan fisik yang tidak dimiliki toko daring, seperti konsumen bisa melihat kualitas barang, mencoba langsung ukuran dan memastikan kesesuaian produk secara langsung.
“Keunggulan ini harus terus dipromosikan dan dipertahankan demi membangun kembali kepercayaan masyarakat sehingga pasar tradisional bisa kembali ramai dan tidak hilang ditelan waktu,” imbuhnya. (MNC/MCR)



















