Kota Pekanbaru
Masjid Raya Senapelan Jadi ‘Magnet’ di Penghujung Ramadan, Jemaah Berbagai Daerah Ramaikan Iktikaf
Masjid Raya Senapelan sebagai salah satu tempat pilihan untuk melaksanakan iktikaf demi meraih malam Lailatul Qadar 1447 H. (Dok Diskominfotik Riau)
PEKANBARU - Langit malam di Masjid Raya Senapelan Pekanbaru tampak lebih hidup dari biasanya. Lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema, menyatu dengan langkah jemaah yang datang silih berganti. Ramadan 1447 Hijriah telah berada di penghujungnya, menyisakan hanya satu hingga dua malam menuju Idulfitri.
Di dalam masjid, suasana terasa khusyuk namun hangat. Sejumlah jemaah tampak duduk bersila, sebagian lagi terpejam dalam zikir panjang. Ada pula yang membuka mushaf, menelusuri setiap ayat dengan penuh penghayatan.
Ketua Pengurus Masjid Raya Senapelan, Juli Usman, menyebut umat Muslim kini berada di penghujung Ramadan. Waktu yang tersisa dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk memperbanyak ibadah.
“Iktikaf ini merupakan ibadah berdiam diri di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kita melakukan zikir, salat, hingga membaca Al-Qur’an,” ujarnya, pada Rabu (18/03/2026).
Dijelaskan, iktikaf menjadi satu diantara cara utama dalam menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan. Di momen inilah, umat Muslim berlomba-lomba memperbaiki diri dan memperbanyak amal.
“Sehingga inilah yang menjadi cara kita untuk menghidupkan 10 malam terakhir Ramadan. Dengan banyak yang bertujuan agar muhasabah diri dan mencari malam Lailatul Qadar,” jelasnya.
Di sudut lain masjid, beberapa jemaah terlihat membawa perlengkapan pribadi seperti kain sarung dan bantal kecil. Mereka bersiap untuk bermalam, bahkan ada yang menetap hingga 24 jam penuh di dalam masjid.
Juli Usman mengatakan bahwa pihak pengurus tidak melarang jemaah untuk beristirahat selama iktikaf. Namun, ia mengingatkan agar niat utama tetap dijaga.
“Selama iktikaf kita tidak melarang jemaah untuk tidur, hanya saja mereka harus ingat tujuan datang ke masjid ini adalah beribadah,” katanya.
Fenomena menarik terlihat dari latar belakang jemaah yang datang. Tidak hanya warga sekitar Pekanbaru, tetapi juga pendatang dari berbagai daerah. Kehadiran para pelancong ini menciptakan suasana kebersamaan yang unik. Meski berasal dari daerah berbeda, mereka menyatu dalam tujuan yang sama yaitu mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
“Ada yang dari Taluk Kuantan, Rengat, bahkan dari Medan. Jadi jemaah tersebut bukan saja warga sekitar tetapi terbuka untuk umum,” terangnya.
Di sela waktu, ada yang memanfaatkan momen untuk merenung. Kepala tertunduk, tangan terangkat, doa-doa dipanjatkan dengan penuh harap agar dosa-dosa diampuni.
Semakin larut malam, suasana justru semakin hidup. Lantunan doa, zikir, dan bacaan Al-Qur’an seakan tidak pernah berhenti. Waktu terasa berjalan lebih lambat, memberi ruang bagi setiap jiwa untuk lebih dekat dengan Allah SWT.
Bagi banyak jemaah, malam-malam ini adalah kesempatan langka yang tidak ingin disia-siakan. Mereka percaya bahwa di salah satu malam tersebut, tersimpan keberkahan luar biasa.
“Terlebih sudah masuk di penghujung puasa, banyak masyarakat yang memburu malam Lailatul Qadar. Semoga amalan baik yang telah dilakukan pada bulan Ramadan, bisa terbawa di setiap harinya,” ungkapnya.
Tak hanya itu saja, generasi muda tampak mendominasi jemaah iktikaf. Anak-anak muda dengan pakaian necis terlihat aktif mengikuti rangkaian ibadah.
Sebagian dari mereka mengaku sengaja meluangkan waktu di akhir Ramadan untuk mencari ketenangan batin. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari, masjid menjadi tempat pelarian spiritual yang menenangkan.
Seperti seorang remaja berusia 22 tahun, Hardani Winata, ia mengaku sengaja datang ke Masjid Raya Senapelan untuk memanfaatkan sisa waktu Ramadan dengan memperbanyak ibadah.
“Biasanya sulit meluangkan waktu lama di masjid, tapi kalau sudah masuk 10 malam terakhir ini rasanya sayang kalau dilewatkan. Saya ingin lebih mendekatkan diri kepada Allah dan berharap bisa mendapatkan malam Lailatul Qadar,” tuturnya.
Dani juga mengungkapkan bahwa suasana iktikaf memberikan ketenangan yang sulit ia temukan di luar. Menurutnya, berkumpul bersama jemaah lain dengan tujuan yang sama menjadi motivasi tersendiri.
“Di sini rasanya beda, lebih tenang. Kita bisa fokus ibadah tanpa gangguan. Melihat banyak orang juga semangat beribadah, jadi ikut termotivasi,” pungkasnya.
Keheningan malam dan cahaya lampu masjid yang temaram, para jemaah terus bertahan dalam ibadah. Ramadan mungkin akan segera pergi, tetapi jejak spiritual yang ditinggalkan di Masjid Raya Senapelan akan terus hidup dalam hati mereka. (MNC/MCR)


















