Pekanbaru
Usung Pertanian Berbasis Teknologi, Evergreen House Pekanbaru Ciptakan Melon Premium Super Manis
Kebun melon premium Evergreen House Pekanbaru menerapkan teknologi hidroponik modern untuk menjaga kualitas hasil panen. (Dok Evergreen House)
PEKANBARU – Perkembangan teknologi tidak hanya mengubah wajah industri dan komunikasi, tetapi juga mulai merambah sektor pertanian modern. Berbagai inovasi kini diterapkan guna meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kualitas hasil panen agar mampu bersaing di tengah kebutuhan pasar yang semakin tinggi.
Di Indonesia, pertanian berbasis teknologi perlahan mulai dilirik petani dan pelaku usaha. Sistem budidaya modern dianggap mampu menjadi solusi atas tantangan cuaca ekstrem, keterbatasan lahan, hingga efisiensi produksi yang selama ini menjadi persoalan utama petani konvensional.
Penerapan teknologi pertanian modern tersebut kini dapat ditemui di Agrowisata Evergreen House Pekanbaru. Kebun melon premium ini menggabungkan konsep wisata edukasi dengan sistem budidaya hidroponik yang mengandalkan greenhouse.
Owner Evergreen House Pekanbaru, Indra Djaya mengatakan, seluruh proses produksi melon premium di tempatnya dilakukan menggunakan sistem pertanian modern yang terintegrasi. Teknologi tersebut diterapkan untuk menjaga kualitas buah tetap stabil hingga masa panen.
“Dalam proses produksi, kebun melon Evergreen House sepenuhnya menerapkan teknologi pertanian modern dengan memanfaatkan fasilitas greenhouse. Sistem penanaman yang digunakan adalah hidroponik modern, yang memadukan metode Nutrient Film Technique (NFT) dan Dutch Flow Technique (DFT),” ujarnya di Pekanbaru, Kamis (28/05/2026).
Dijelaskan, penggunaan greenhouse menjadi bagian penting dalam menjaga tanaman tetap aman dari gangguan cuaca ekstrem, hama, maupun penyakit tanaman. Lingkungan yang lebih terkontrol membuat proses pertumbuhan melon berjalan lebih optimal.
Selain itu, Evergreen House juga menerapkan sistem hidroponik modern yang membuat proses budidaya menjadi lebih efisien. Teknologi tersebut memungkinkan tanaman memperoleh pasokan nutrisi dan air secara stabil setiap hari.
Ia menambahkan, sistem pengairan di kebun melon dijalankan secara otomatis menggunakan pompa listrik. Dengan metode tersebut, proses penyiraman manual tidak lagi diperlukan karena seluruh sirkulasi air berjalan secara terukur.
“Melalui sistem hidroponik ini, pengairan tanaman berjalan secara otomatis melalui sirkulasi yang digerakkan oleh pompa listrik, sehingga tidak ada lagi proses penyiraman yang dilakukan secara manual. Fokus pengelola saat ini adalah memaksimalkan kapasitas produksi yang ada,” jelasnya.
Diterangkan, proses budidaya melon premium membutuhkan waktu 65–75 hari sebelum akhirnya siap dipanen. Mulai dari tahap penyemaian hingga panen, tanaman memerlukan perawatan intensif agar menghasilkan buah berkualitas tinggi.
“Proses budidaya dari tahap semai hingga masa panen membutuhkan waktu sekitar 65 hingga 75 Hari Setelah Semai (HSS). Kunci utama yang membedakan melon premium dengan produk di pasaran adalah tingkat kematangan dan kesegarannya,” terangnya.
Berbeda dengan melon biasa yang sering dipanen sebelum matang sempurna, melon premium dibiarkan matang langsung di pohon. Cara tersebut dilakukan untuk menjaga cita rasa manis alami yang menjadi ciri khas melon premium.
“Buah yang dihasilkan benar-benar matang di pohon dan bukan hasil pemeraman. Untuk menjaga kualitas dan rasa manis di atas tingkat kemanisan 15 persen brix (setara dengan 15 gram gula), pengelola menerapkan perawatan yang sangat disiplin berdasarkan dua fase pertumbuhan,” ungkapnya.
Menurutnya, proses perawatan tanaman dibagi menjadi dua tahap utama yakni fase vegetatif dan fase generatif. Pada fase vegetatif, fokus utama diarahkan untuk memperkuat struktur tanaman agar mampu menopang buah dengan baik.
“Pada fase vegetatif, fokus diarahkan pada pertumbuhan akar, batang, dan daun dengan cara memangkas tunas air atau cabang hingga ruas ke-10 agar batang tumbuh kokoh dan berdaun lebar,” tuturnya.
Setelah memasuki fase generatif, perhatian petani beralih pada proses pembentukan buah. Pada tahap ini dilakukan penyerbukan atau polinasi pada bunga betina agar calon buah berkembang secara maksimal dan memiliki bentuk sempurna.
“Memasuki fase generatif, dilakukan penyerbukan atau polinasi pada bunga betina agar calon buah berkembang maksimal,” lanjutnya.
Salah satu teknik penting yang diterapkan ialah membatasi jumlah buah pada setiap tanaman. Cara tersebut dilakukan agar seluruh nutrisi tanaman terfokus pada satu buah sehingga kualitas rasa, ukuran, dan bobot melon menjadi lebih optimal.
“Hal tersebut guna memastikan nutrisi terserap secara fokus. Sehingga setiap satu tanaman hanya dipelihara satu buah saja, dengan begitu menghasilkan bobot, bentuk, dan rasa manis yang optimal,” pungkasnya. (MNC/MCR)


















