Pelalawan
Riset Unri Dorong Praktik Lokal Jadi Referensi Mitigasi Konflik Manusia-Gajah di Pelalawan
Tim PKM-RSH Universitas Riau memaparkan hasil penelitian mitigasi konflik manusia-gajah berbasis co-adaptation dan olfaktori dalam FGD bersama pemangku kepentingan di Kantor BAPPEDA Kabupaten Pelalawan. (Dok Unri)
PELALAWAN – Upaya mencari strategi penanganan konflik manusia dan gajah di Kabupaten Pelalawan terus dilakukan melalui kajian berbasis praktik masyarakat. Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) Universitas Riau menggelar Focus Group Discussion (FGD) konfirmatif bersama sejumlah pemangku kepentingan di Kantor BAPPEDA Kabupaten Pelalawan, Senin (24/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan penelitian yang mengkaji mitigasi konflik manusia-gajah berbasis co-adaptation dan olfaktori. FGD difasilitasi BAPPEDA Kabupaten Pelalawan sebagai bentuk dukungan terhadap penelitian yang menggali pengalaman dan praktik lokal masyarakat dalam menghadapi konflik dengan satwa liar.
Sebanyak 14 peserta dari berbagai instansi dan kalangan terkait hadir dalam kegiatan tersebut. Di antaranya Kepala BAPPEDA Kabupaten Pelalawan T. Muhammad Syukran beserta jajaran, Balai Taman Nasional Tesso Nilo, Badan Riset Daerah, BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Pelalawan, serta praktisi lingkungan.
Penelitian ini diketuai Okta Rindah Zahra dengan anggota Nindy Elsa Corvina dan Fitrah Asyrafal. Mereka didampingi dosen pembimbing Rina Susanti. Ketua Jurusan Sosiologi Unri Dr. Mita Rosaliza bersama sejumlah dosen Jurusan Sosiologi juga turut hadir.
Dalam FGD, tim memaparkan hasil penelitian yang berfokus pada praktik masyarakat Desa Bagan Limau dan Desa Lubuk Kembang Bunga dalam menghadapi konflik manusia-gajah di sekitar ruang hidup mereka.
Praktik tersebut kemudian dikaji berdasarkan tingkat keberhasilan, efisiensi, serta keberlanjutan penerapannya. Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah pemanfaatan pendekatan olfaktori, termasuk praktik lokal berbasis penanaman yang dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan.
Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pelalawan, Bob Kurniawan, menilai temuan penelitian tersebut dapat memberikan perspektif tambahan dalam upaya mitigasi konflik manusia-gajah.
“Permasalahan dari penelitian ini sangat menarik sekali, hal ini bisa lebih memperkaya dengan informasi bahwa praktik lokal terutama berbasis penanaman memiliki potensi lain yang dapat berdampak pada masyarakat,” ujarnya dalam diskusi.
Selain memaparkan hasil kajian, FGD dimanfaatkan tim untuk menguji kembali temuan penelitian dengan kondisi yang ditemukan di lapangan. Masukan dari pemerintah daerah, lembaga konservasi, hingga instansi teknis diharapkan dapat memperkaya hasil penelitian.
Hasil diskusi selanjutnya akan digunakan untuk menyempurnakan draft policy brief yang tengah disusun tim. Dokumen tersebut nantinya diharapkan dapat menjadi penghubung antara hasil penelitian dengan kebutuhan pengambilan kebijakan, terutama dalam merumuskan strategi mitigasi konflik manusia-gajah.
Kepala BAPPEDA Kabupaten Pelalawan T. Muhammad Syukran berharap hasil penelitian tidak hanya berhenti pada dua desa yang menjadi lokasi kajian. Ia mendorong agar hasil penelitian dan policy brief yang disusun dapat membuka peluang penerapan maupun pengembangan referensi baru dalam perencanaan pembangunan daerah Kabupaten Pelalawan.
Tim PKM-RSH Unri berharap hasil penelitian mengenai mitigasi konflik manusia-gajah berbasis co-adaptation dan olfaktori dapat dikembangkan lebih lanjut dengan menyesuaikan kondisi serta kebutuhan masyarakat di lapangan.
Melalui policy brief yang disempurnakan, hasil kajian tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam merancang strategi mitigasi konflik manusia-gajah yang kontekstual, berkelanjutan, sekaligus mendukung kehidupan berdampingan antara masyarakat dan gajah. (MNC/SP)



















